SINERGISITAS ANTARA TEORI DAN PRAKTEK UNTUK MENCETAK GENERASI NTB YANG BEBAS DROP OUT YANG BERIMBAS PADA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN DAN EKONOMI

  1. by: Mulyadi UNRAM
  2. A.    PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu  Negara yang memiliki Indek Pembungunan Manusia (IPM) yang sangat rendah. IPM Indonesia menempati urutan ke-109 dari seluruh Negara yang ada di dunia. Salah satunya IPM di bidang pendidikan. Sampai saat ini, tingkat pendidikan di Indonesia hanya berkisar 17,3 persen.. Sedangkan Tingkat pendidikan Negara yang sedang berkembang di atas 35 persen. Kondisi semacam ini menunjukkan pendidikan di Indonesia sangat tertinggal dan terpuruk. Keterpurukan pendidikan semacam ini cukup dirasakan oleh provinsi-provinsi yang ada di Indonesia, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)…. Pada tingkat Nasional IPM NTB menempati urutan 32 dari 33 provinsi. Rendahnya IPM masyarakat NTB disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan (Komisi Publik. 2009).

Pada dasarnya, NTB memiliki keunggulan tersendiri dalam merespon ketertinggalan IPM-nya. Terbukti, walaupun IPM NTB menempati urutan terendah diantara Bali, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Utara, namun memiliki laju peningkatan mutu pendidikan atau priode pembangunan IPM tercepat. Hal ini dapat dilihat pada laju pertumbuhan IPM dari 54, 2 % pada tahun 1999 menjadi 64,1 % di tahun 2009. Dibandingkan dengan DKI (72,5%-77,4%), Sulawesi Utara (67,1%-75,2%), Bali (65,7%-71,5%) dan Nusa Tenggara Timur (60,4%-66,7%). Namun demikian, NTB tetap menempati urutan terendah, karena NTB dibandingkan dengan daerah lainnya memiliki titik awal yang berbeda dalam mengenyam pendidikan (Anonim, 2011).

Berdasarkan data statistik tersebut, program-program gubernur dalam peningkatan kualitas IPM masyarakat cukup bagus, seperti Gerakan Mandiri Masyarakat (1998-2003), Gerakan Perubahan Ekonomi Masyarakat (2003-2008) dan di tahun 2008-2013 mencanangkan program NTB Berdaya Saing yang mengembangkan Program PIJAR (Padi, Jagung dan Rumput Laut)  dan Gerakan 3A, yaitu AKINO (Angka Kematian Ibu Nol), ADONO (Angka Drop Out Nol) dan ABSANO (Angka Buta Aksara Nol). Setahun periode percobaan program NTB Berdaya Saing melalui Gerakan 3A mengalami kesuksesan dibandingkan dengan program-program gubernur sebelumnya (2009). Namun, disatu sisi mengalami kekalahan dalam percepatan perkembangan laju pendidikan dibandingkan dengan provinsi lainnya. Bahkan dianggap mengalami penurunan yang cukup derastis, karena ketertinggalan laju pertumbuhan NTB mencapai 1,5% dari provinsi lainnya. Oleh karena itu, perlunya pembenahan disegala bidang, utamanya pendidikan (Anonim, 2011).

Pendidikan di NTB sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi masyarakat. Tidak kalah pentingnya dan harus menjadi pusat perhatian serius bagi pemerintah. Melihat kenyataan, relatif tingginya angka kemiskinan di NTB yang berada jauh di atas rata-rata Nasional. Angka kemiskinan rata-rata Nasional pada tahun 2008  sebesar 15,42 % dan mengalami penurunan sampai 14,15 persen di tahun 2009. NTB sendiri tercatat sebanyak 23,4 persen atau seperempat penduduk NTB masih berada di bawah garis kemiskinan (Suara NTB, 2010).

Beberapa dekade terakhir ini, sektor ekonomi banyak berperan pada tinggi rendahnya IPM suatu daerah. Banyak fakta yang  mengungkapkan bahwa, karena tuntutan ekonomi anak drop out dari sekolahnya. Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya. Penggalangan program sekolah gratis yang dicanangkan pemerintah tidak sejalan dengan apa yang dituliskan di atas kertas atau dengan kata lain mengalami kegagalan. Pada kenyataanya masih banyak terjadi pemungutan liar dari beberapa instansi sekolah. Di samping para peserta didik membeli peralatan sekolah, pakaian sekolah dan beberapa kebutuhan lainnya. kondisi semacam ini tidak membawa kesan bahwa sekolah itu gratis (Ahyadi, 2011). Di sisi lain, sistem pendidikan yang ada di Indonesia yang cenderung coba-coba mengakibatkan ketidak siapan peserta didik dan pendidik untuk menerimanya. Sehingga banyak sistem pendidikan yang telah diterapkan mengalami perubahan (pergantian), padahal satu pun sistem  (kurikulum) pendidikan yang diterapkan belum sepenuhnya dapat mencapai target. Kurikulum semacam ini  menimbulkan kebosanan pada peserta didik. Akibatnya dirasakan pula oleh daya pandang masyarakat dan semakin memperkuat pandangan mereka tentang tidak adanya peranan yang berarti dari lembaga pendidikan. Hal demikian memunculkan ketidak harmonisan antara kurikulum pemerintah, pendidik dan peserta didik. Ketidak harmonisan ini, memicu terjadinya  kakacauan sistem pendidikan yang ada di Indonesia temasuk provinsi NTB. Wajar kalau setiap tahun banyak terjadi peningkatan jumlah drop out anak sekolah dasar. Lebih Parahnya lagi, setiap anak yang drop out didukung penuh oleh anggota keluarganya. Sehingga tidak ada tekanan dari para orang tua, dan ini adalah salah satu faktor terbesar yang berpotensi untuk meningkatkan kuantitas angka drop out ditahun-tahun berikutnya.

Paradigma semacam itu juga salah satu faktor terbesar pemicu munculnya pengangguran-pengangguran baru. Ditahun 2011 angka pengangguran mencapai titik maksimal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu alternatif yang kami tawarkan dalam gagasan tertulis ini adalah mensinergikan antara pendidikan dan praktek   yang berimbas pada sektor ekonomi masyarakat, yaitu dengan mengkombinasikan semua konsep pendidikan yang berlabel teori didukung oleh praktek berdasarkan disiplin ilmu yang diajarkan.

Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai pada gagasan tertulis ini adalah:

v  Untuk mengubah pandangan masyarakat NTB akan pentingnya pendidikan.

v  Untuk men-nolkan buta aksara dan drop out tingkat sekolah dasar (SD).

v  Mengkombinasikan antara teori dan praktek serta kontribusi yang cukup besar di sektor ekonomi.

 

Manfaat

Manfaat yang dapat dirasakan jika menerapkan sistem pendidikan pada gagasan tertulis ini adalah:

v  Menambah khazanah sain dibidang pendidikan.

v  Meningkatkan minat sekolah peserta didik.

v  Mengubah paradigma masyarakat tentang sia-sianya pendidikan.

  1. B.     GAGASAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi (Anonim, 2011).

Pada dasarnya komponen pendidikan diukur oleh dua indikator, yaitu angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Dua indikator ini dipandang sebagai pengukur tingkat pengetahuan masyarakat. Sedangkan tingkat pengetahuan dan ketrampilan secara umum yang dimiliki oleh penduduk secara agregat dapat digambarkan melalui rata-rata lama sekolah. Dengan demikian, dua indikator tersebut dapat menggambarkan tentang kualitas penduduk secara umum. Beberapa indikator yang dijadikan barometer dalam pendidikan adalah kemampuan baca tulis, rata-rata lama sekolah, tingkat pendidikan yang ditamatkan, partisipasi sekolah dan angka putus sekolah (drop out).

Selama periode (2002 – 2004) tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk NTB mengalami peningkatan yang cukup membanggakan. Dicirikan dengan berkurangnya persentase penduduk yang berpendidikan rendah dan meningkatnya penduduk yang berpendidikan tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh sebagian besar penduduk NTB. Tidak tamat SD sebesar 29,18 persen di tahun 2002 dan mengalami penurunan hingga 26,78 persen di tahun 2004. Di sisi lain, terjadi penurunan persentase penduduk yang tidak pernah sekolah dari 22,17 persen menjadi 20,60 persen (2002-2004).

Sedangkan gambaran mengenai peningkatan Sumber Daya Manusia dapat dilihat dari kualitas tingkat pendidikan penduduk usia 10 tahun ke atas.  Angka partisipasi kasar (APK) sekolah menengah dan sederajat di NTB, pada tahun ajaran 2007/2008 dinilai masih rendah yakni mencapai 48,9 persen. Parahnya, pada tahun 2008 tercatat 400 Ribu anak NTB tidak sekolah (Nusantara, 2011).

Berdasarkan data dari Dikpora NTB. Pada tahun ajaran 2007/2008 APK PAUD di NTB mencapai 63,4 persen atau masih tersisa 6,6 persen dari target capaian. Sementara sekolah dasar (SD) dan sederajat mencapai 97,5 persen dan masih tersisa 2,5 persen. Indikator lain terkait permasalahan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat NTB, yakni persentase angka melanjutkan tingkat pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, mulai dari SD hingga SMA tergolong rendah. Angka siswa lulusan SD atau sederajat yang tidak melanjutkan pendidikan kejenjang sekolah menengah lanjutan tingkat pertama pada tahun ajaran 2007/2008 tercatat sebesar 2,36 persen. Selanjutnya, untuk siswa lulusan SLTP  yang melanjutkan kejenjang sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) dan sederajat mencapai 86,29 persen atau sekitar 13,71 persen memilih tidak melanjutkan pendidikan. Selain itu, faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan yakni persentase siswa yang putus sekolah. Tercatat sebesar 1,17 persen siswa SD putus sekolah pada tahun 2008. Sementara angka putus sekolah untuk siswa SLTP mencapai 3,93 persen, SMA dan SMK masing-masing 6,61 persen dan 12,69 persen. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat berakibat pada rendahnya IPM NTB yakni sebesar 62,4 persen dan berada diperingkat ke-32 dari 33 provinsi di seluruh Indonesia. Dengan demikian, dibutuhkan suatu upaya maksimal dari pemerintah daerah untuk terus meningkatkan persentase atau angka dari masing-masing sektor, yang akan menjadi tolak ukur keberhasilan peningkatan pendidikan di NTB (Salintas Kabar, 2011).

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi NTB melalui program gubernur dalam peningkatan kualitas IPM masyarakat, yakni Gerakan Mandiri Masyarakat (1998-2003), Gerakan Perubahan Ekonomi Masyarakat (2003-2008) dan NTB Berdaya Saing yang mengembangkan Program PIJAR (Padi, Jagung dan Rumput Laut)  dan Geraka 3A (Salintas Kabar, 2011).

Program-program pemerintah tersebut cukup memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan IPM NTB. Namun demikian, program tersebut masih belum mampu mengubah pola dan paradigma berpikir tentang sangat pentingnya pendidikan, baik bagi orang tua, pendidik maupun peserta didik itu sendiri. Sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah sampai sejauh ini belum memberikan hasil yang diharapkan bahkan 20% dari target harapan belum dapat dicapai. Sistem pendidikan yang terlalu dipaksakan dan harus mengalami perubahan (pergantian) dari tahun-ke tahun bukan menjadi solusi dari ketertinggalan IPM bangsa Indonesia. Akan tetapi lebih condong pada sistem pendidikan yang terlalu mengada-ngada dan terkesan mengekor dari Negara yang maju, baik dari segi infrastruktur pendidikan, fasilitas, dan dukungan SDM (ahli dan pakar). Sedangkan masyarakat kita belum siap dengan perubahan-perubahan semacam itu. hal ini cukup berpengaruh pada gaya keterdidikan peserta didik, akibatnya muncul sifat anak-anak yang sulit dikendalikan dalam belajar,yaitu nakal, suka melawan guru, tidak sopan dan berbagai sifat tidak terdidik lainnya. sifat buruk tersebut disebabkan karena peserta didik mengalamai kemalasan dalam belajar, kebosanan menerima materi, dan ketidak siapan anak dalam menghadapi perubahan kurikulum yang teramat cepat.

Di Provinsi NTB, sarana pendidikan masih belum memadai dengan tuntutan kurikulum, utamanya laboratorium praktikum untuk sekolah dasar dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Sehingga perlunya pembaharuan baik kurikulumnya atau konsep pendidikan yang digunakan oleh instansi pendidikan dan pendidik. Pembaharuan yang dimaksud adalah pembaharuan konsep pendidikan dengan memanfaatkan sektor pendukung yang ada, bukan meminta pemerintah membangunkan sarana pendukung. Akan tetapi tidak dimanfaatkan dan tersia-siakan. Konsep yang paling tepat diterapkan di NTB, terutama daerah pedesaan atau pelosok akan ditunjukkan pada diagram di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Diagram Sinergitas Pendidikan

Berdasarkan diagram di atas, program-program pemerintah untuk menuju NTB Bersaing akan mendukung sarana dan prasarana pendidikan dalam implementasinya kedunia nyata, seperti sawah, peternakan, kerajinan dan pasar. Pendidik dan peserta didik memanfaatkan sarana dan prasara pendidikan alam nyata tersebut. Program-program pemerintah seperti BSS dan PIJAR akan semakin banyak diketahui oleh masyarakat yang bersangkutan akan program tersebut. Sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih kedepannya bagi program tersebut.

Keuntungan bagi peserta didik, yang didukung oleh potensi daya tangkap otaknya terhadap materi adalah lebih menguasai materi pelajaran dan applikasinya di dalam dunia nyata. Lebih paham dan mengerti berbagai program-program pemerintah   baik daerah maupun pusat. Mengetahui kedaan masyarakat yang sebenarnya, tumbuhnya jiwa sosial yang tinggi, dan percepatan perkembangan otak baik kiri maupun kanan. Tumbuh dan berkembangnya daya nalar dan analisis lingkungan sekitar untuk percepatan perkembangan otak. Adanya pengetahuan melihat potensi dan peluang pasar. Meningkatnya keinginan untuk bersekolah dan belajar. Keinginan ini adalah modal untuk mengurangi bahkan menolkan angka drop out di usia dini, dan me-nolkan buta aksara.

Teori-teori yang diperoleh disekolah akan dihubungkan dengan kehidupan nyata yang menampilkan potret alam, misal: ketika belajar biologi (mulai dari tingkat SD atau tingkat PAUD) mengenai masalah tanaman pangan yang mendukung program NTB bersaing seperti Program PIJAR, diajak para siswa mengelilingi sawah, hutan disekitar sekolah, dan kebun-kebun atau mengenai materi tentang tanaman palawija dan sayur-sayuran diajak ke sawah dan pasar. Mengetahui keadaan pasar bagi anak dari usia dini memberikan keseimbangan pada otak kiri dan otak kanan. Cara yang seperti ini tentunya sangat efektif bagi perkembangan pendidikan di daerah pedesaan khususnya. Karena sarana alam di daerah pedesaan sangat mendukung untuk pendidikan yang memadukan teori dan praktek. Di sisi lain, dengan mengajak belajar di pasar secara tidak langsung anak-anak akan mengetahui kondisi pasar di daerahnya, mulai dari harga, jenis barang dagangan yang ada di pasar, orang-orang yang berjualan di pasar dan berbagai jenis keadaan pasar lainnya.

Kondisi ini, tentunya sangat meguntungkan bagi peserta didik karena secara otomatis mereka memiliki kemampuan analisa pasar dan melihat peluang pasar. Diharapkan pengetahuan yang terbangun dari usianya yang masih belia, akan mendukung kecepatan tanggap, respon cepat dan penyaluran tepat bagi si anak.

Di sekolah atau instansi pendidikan di NTB memprogramkan salah satu program wajib menanam sayuran atau tanaman-tanaman yang bernilai jual cukup tinggi, misal cabai. Ambil sampel, di setiap kelas tersebut terdapat 30 murid dan setiap murid menanam 4 batang pohon cabe di rumah, jika setiap batang menghasilkan buah seberat ¼ kg dalam sekali panen, maka 4 pohon akan mendapatkan 1 kg sekali panen per satu murid. Jika harga cabe kira-kira Rp. 30.000,00 di pasar maka setiap anak memiliki uang saku Rp. 30.000,00 per sekali panen. Artinya dengan uang Rp 30.000,00 untuk anak PAUD atau SD maka cukup untuk uang jajan satu minggu, dengan demikian dapat mengurangi biaya pendidikan wali murid dalam pendidikan. Karena sekolah dapat penghasilkan uang juga, membuat anak tidak cepat jenuh dan yang paling penting mereka akan terus bersekolah tanpa terkendala biaya pendidikan. Menciptakan kondisi yang demikian tentunya akan memberikan nilai lebih dan berpotensi untuk meminimalisir drop out dan buta aksara di NTB.

  1. C.    KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari pemaparan gagasan tertulis ini adalah:

v  Terwujudnya perubahan pandangan masyarakat terhadap pendidikan, bahwa tidak selamanya pendidikan itu menghabiskan uang, akan tetapi juga dapat menghasilkan uang dengan penerapan metode sinergisitas antara teori dan paktek.

v  Tercetaknya generasi-generasi Sekolah Dasar (SD) dan sekolah dini (PAUD) yang bersemangat menuntut ilmu dan bersemangat bersekolah.

v  Terwujudnya sekolah yang berkarakter yang dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan karena sinergisitas yang bersesuaian dalam bidang pendidikan, yaitu teori dan praktek serta  kontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Komisi Publik. 2009. Tingkat Pendidikan di Indonesia hanya mencapai 17%. http://www.waspada.co.id/index/phpoption=com_content&view=article&id=56338/tingkat-pendidikan-di-indonesia-hanya-173&catid=15&Itemid=28/index.php.htm, di akses 25 November 2011.

Anonim, 2011. http://lomboknews.com/2011/0623/ipm-ntb-masih-terendah-walaupun-perkembangannya-tercepat/LombokNews.Com – Lombok Sumbawa Online » Blog Archive » IPM NTB MASIH TERENDAH WALAUPUN PERKEMBANGANNYA TERCEPAT.htm, diakses 25 November, 2011.

Suara NTB., 2010. IPM Rendan tidak Perlu Protes. http://www.suarantb.com/2010/0419/Sosialdetil1%25203.html/SUARA NTB – Aspirasi Rakyat NTB.htm, di Akses 25 November 2011.

Anonim,2008. Kualitas SDM. http://lomboktimurkab.go.idpilih=hal&id=49/Pemerintah  Daerah Kabupaten Lombok Timur.htm, diakses 25 november 2011.

Suara NTB. 2011. IPM Rendah Tidak Perlu Protes. http://www.suarantb.com/2010/0419/Sosialdetil1%25203.html/SUARA NTB – Aspirasi Rakyat NTB.htm, diakses 25 November 2011.

Anonim, 2011. Jenjang Pendidikan. http://putrinet.wordpress.comjenjang/Jenjang Pendidikan « PENDIDIKAN.htm, diakses 25 November 2011.

Komisi Publik, 2010. Tingkat pendidikan Indonesia hanya mencapai 17,3 persen. http://www.waspada.co.id/index/phpoption=com_content&view=article&id=56338tingkat-pendidikan-di-indonesia-hanya-173&catid=15&Itemid=28/index.php.htm, diakses 25 November 2011)

Nusantara. 2011. APK Sekolah Menengah di NTB Rendah. http://antaramataram.com/beritarubrik=5&id=4212/AntaraMataram.Com.htm, diakses 27 November 2011.

Salintas Kabar. 2011. Absano, Akino, Adono. http://sekdessuntalangu.wordpress.com/2010/0910/absano-akino-adono/Absano, Akino, Adono « SEKDES SUNTALANGU.htm

2 Responses to “SINERGISITAS ANTARA TEORI DAN PRAKTEK UNTUK MENCETAK GENERASI NTB YANG BEBAS DROP OUT YANG BERIMBAS PADA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN DAN EKONOMI”

  1. al ansori Says:

    upload artikel2 mnarik lainnya..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: