Kasih Sayang IBU Tiadatara

KASIH SAYANG SANG IBU

Bumi dihamparkan begitu luas oleh sang pencipta alam dengan berbagai keindahan arsitektur dan kontur yang tidak terbandingi yang merupakan karya luar biasa dan tidak terpikirkan oleh mahluknya. Dihamparan bumi yang indah ini terdapat bangunan- bangunan  dengan berbagai macam bentuk dan konstruksi terlihat disepanjang perkampungan maupun perkotaan. Yang lebih mengesankan lagi, di daerah yang tidak begitu banyak diketahui orang (terpencil), tinggal sebuah keluarga yang jarang sekali terdengar suara gaduh ataupun kacau dari rumah tempat keluarga itu menetap. Suatu hari terdengar suara riuh bercampur gaduh dari rumah yang biasanya tenang ayem tersebut,  hal ini merupakan keganjilan bagi tetangga-tetangganya yang tinggal di sekitar rumah tersebut.

Teangga mulai menduga-duga menurut persepsi masing-masing terutama dari para ibu – ibu tukang gossip mengadakan cerita-cerita bohong sesuai dengan keinginan dan imajinasinya yang teramat buruk dan semburan suranya melintasi pepohonan bamboo sehingga tersebarlah berita tidak sedap di seantero desa yang disebut Jempong tentang berita gaduh dari keluarga yang tadinya dianggap keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah tersebut.

Suasana yang tadinya seperti musim semi berubah menjadi musim kemarau yang berkepanjangan ditambah dengan musim paceklik yang menghantam, langit pun tak ingin ketinggalan mengguyurkan awan hitam dengan tebal yang tidak biasa terjadi pada musim-musim sebelumnya sebagai tanda bahwa keharuman keluarga itu berubah menjadi bau bangkai yang tak terkirakan baunya. Apakah yang terjadi pada keluarga itu?, yang biasa disebut dengan keluarga Pak Marwan.

Pintu rumah terbuka tidak seerti biasanya, jendela yang biasanya terbuka mulai tertutup, yang tadinya selalu bersih dengan serpihan air dan serbetan pengering menambah indah pemandangan rumah, tetapi itu tidak akan terlihat lagi ketika terdengar suara gaduh dan riuh yang dialami para penghuni rumah. Sang ibu yang biasa keluar menemui tetangga alias berkunjung atau bebrbelanja  pada pedagang keliling dengan wajah ayu dan ceria kini tidak lagi tercermin di wajah nan ayu dan cantik dari seorang ibu dengan 4 orang anak ini. Akan tetapi, setiap anaknya ada disampingnya dia tidak pernah menunjukkan wajah cemberut ataupun wajah yang tidak enak dipandang oleh mata walau hanya sedikit pun tidak pernah ditampakan pada anak-anak tercintanya. Itu semua dilakukan untuk menjaga hubungannya dengan mereka dan agar mereka tidak menganggap perhatiannya berkurang walau hanya sebesar biji sawi terhadap anaknya.

Sang anak pernah bercerita kepada saya yang tidak lain sepupunya tentang keadaan keluarganya pada saat bunda tercintanya mengandung putra kelima atau adik sang pencerita yang biasa dipanggil Akbar. Ibunya sering merasakan sesuatu yang jarang sekali orang rasakan ketika mengandung dan merupakan suatu keganjilan yang bahkan sulit terjadi pada manusia biasa apalagi  pada zaman sekarang. Keanehan yang terjadi ini merupakan suatu tanda bahwa sang ibu mempunyai suatu kelebihan dari sang penguasa urusan setiap mahluk.

Ibuku sering merasakan buah anggur atau memakan suatu makanan yang hampir tidak pernah dirasakan selama hidupnya, melainkan di dalam mimpinya selama mengandung sang anak, yang kelahirannnya diberikan nama Darmawan diambil dari kosa kata bahasa Arab yang artinya orang yang suka memberi. Kasih sayangnya pada anak ini tidak jauh berbeda dengan kasih saying yang diberikan pada anak-anaknya yang lain walaupun saat mengandungnya banyak kelebihan yang yang diperoleh. Ibu yang seperti ini sangat jarang kita temukan baik difilm-film sinetron maupun film-film yang berkelas bioskop apalagi dikehidupan yata. Tetapi ini benar-benar suatu kontardiksi dari peran dimana aksi seorang ibu bukan merupakan suatu yang dibuat-buat sehingga tidak mempunyai makna sama sekali, menjauh dari anggapan itu, kasih sayanglah yang mampu memotivasi sang ibu melakukan hal yang demikian.

Tidak hanya itu, peran dari sang ibu mengurus semua kegiatan yang bersangkut paut dengan keadaan keluarga adalah sebuah tanggung jawab besar dan tidak sedikit membutuhkan pengorbanan. pada suatu ketika anaknya yang bernama Lukman Nul Hakim (anak ke-2), mengalami sakit, sang ibu berusaha sekuat tenaga mencari obat dan berbagai jenis penyembuhan agar cepat si Lukman  pulih kembali. Tergambar di raut wajah sang ibu nuansa cemas, gundah gulana, mondar-mandir, memeras kepala berfikir dan menaruh simpati dan empati yang teramat besar kepada Lukman yang kian hari keadaanya semakin memperihatinkan. Terlepas dari perhatian ibu adik-adik dan kakaknya  tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menunggu sang bapak pulang. Bapak yang bekerja sebagai guru di Sekolah Dasar tentu membutuhkan Tenaga lebih untuk menutupi kebocoran ekonomi yang dialami keluarganya hingga dia jarang pulang bahkan pernah sampai satu minggu. Adapun kalau kurang dari itu, pulangnya kadang tengah malam hingga keadaan anaknya pun hampir tidak diketahui. Kesibukannya dan besarnya tanggung jawab hingga dia lupa dengan tanggung jawab yang lainnya. Sang ibu yang teramat lelah dan tak berdaya menyambut kedatangan suaminya apalagi sempat menceritakan keadaan anak-anaknya. Kesemuanya itu merupakan beban moral yang teramat banyak dan besar bagi sang ibu.

Tidak lama kemudian setelah peristiwa –peristiwa itu, pak marwan berhenti dari pekerjaan lemburnya dan hasil yang ia peroleh cukup untuk membiayai keluarga ia dengan penuh rasa bangga beriring puas dengan apa yang telah ia kerjakan selama proses lembur. Setibanya di rumah, tok…tok bunyi pitu tidak seperti biasanya ayunan tangan yang lembut nan penuh semangat dari seorang pengetuknya membuat suasana indah dan tak tergambarkan di benak sang pecandu keonaran. Sambutan sang istri beriring airmata dan dekapan keras menimbulkan keheranan yang luar biasa pada sang suami melihat pemandangan yang hampir tidak pernah dilakukan oleh istrinya semakin keras didekap suaminya semakin deras bercucuran air matanya tak elahnya seperti menganak sungai.

Dengan penuh keheranan pak Marwan bertanya

“ apakah yang terjadi pada mu wahai istriku?”

“Kita mengalami musibah” dengan suara terbata-bata dari sang istri

“bicaralah yang jelas” suara lembut bercoretan cemas dan gelisah pada muka pak Marwan

“Akbar,…Akbar,…akbar” tangisan semakin membeludak kata-kata yang ke luar dari mulutnya hamper tak terdengar oleh suaminya

“Maksudku Lukman sedang sakit parah” sang ibu mengulang ucapan yang keliru tadi

“Apa yang terjadi dengan lukman ” kata pak Marwan sambil menyibak pintu dan berlari pontang-panting menuju kamar Akbar dan melihat keadaannya, lalu tanpa banyak bicara dan tidak mempedulikan capek dan lelahnya yang baru pulang kerja menggendong dan memboncenginya berobat ke rumah sakit terdekat.

Mooong…moooong suara derum sepeda motor pak Marwan, sang ibu yang melihat itu semakin terisak-isak menangis sejadi-jadinya bagaikan anak bayi yang kelaparan lantaran belum bisa bicara dan menagislah sebagai isyaratnya.

Setelah beberapa lama kondisi emosional Bu Marwan mulai stabil dan dengan penuh tawakkal menghadap Ilahi dengan lantunan do’a yang diiringi dengan deraian air mata dengan penuh harap dan iba memohon kepada pemilik sekalian mahluk akan kesembuhan sang buah hatinya yang sedang berbaring di Rumah sakit dengan keadaan badan kaku tak berdaya lantaran penyakit yang diderita. Bu Marwan tidak beranjak-ranjak dari tempat persujudannya sambil mengangkat tangan mendo’akan anaknya tanpa henti-henti sampai matnaya bengkak tak dipedulikan sama sekali. Adapun anaknya yang lain merasa kasihan kepadanya, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa karena kondisi saudaranya yang sangat membutuhkan perhatian lebih, do’a dan berbagai hal yang mampu membuat dia kembali seperti semula.

Beberapa hari selanjutnya Allah mendengar segala panjatan sang ibu hingga ia bisa melihat anaknya sembuh. Setelah peristiwa itu, sang anak begitu dimanja sampai perhatiannya dan tanggung jawabnya kepada anaknya yang lain sempat tergores noda dan terbakar rasa iri dengki dipikiran anaknya. Akan tetapi itu tidak bisa berlangsung lama karena sang ibu pintar dan cerdas merayu dan mengambil hati semua anaknya hingga keadaan bahagia kembali dirasakan.

Tidak beberapa lama kebahagian yang pernah hilang kini telah kembali lagi menemani keluarga tersebut. Anaknya yang pertama yang biasa dipanggil Yuyun yang dikenal sebagai penulis kaligrafi mendapat kesempatan pergi ke Aceh untuk bertanding adu kesenian menulis al-qur’an dikarenakan bakatnya dalam menulis kaligrafi dengan ditemana kuas dengan ketajaman yang diberlakukan hingga kecepatan dan ketangkasan seorang pengagum seni dari cara dan tindakan lemah lembut dari tangan kecil mungil halus Yuyun.

Yuyun merupakan anak pertama dari keluarga pak Marwan dan termasuk dalam kategori siswa yang berperestasi selama duduk di bangku SD, SMP,SMA dan termasuk mahasiswa yang berilian pada kampusnya di AIAN Mataram (Provinsi NTB). Semua perestasi yang Ia raih tidak lepas dari motivasi sang Ibu dan perannya dalam menata bakat yang tidak pernah diketahui orang kecuali oleh orang yang mengetahuinya dan itulah yang terjadi pada ibu dan anak ini. Sehingga tidak heran jika bapak dan ibunya begitu menyayanginya dari baru masuk sekolah sampai perguruan tingginya hampir tidak pernah dibiaya oleh orang tuanya, perestasi gemilang terus-terusan dipersembahkan kepada kedua orang tuanya dan tentunya kepada sekolahnya.

Sang ibu yang melihat bakat itu, gembira bukan main dan bukan hal yang sengaja dibuat-buat untuk menarik simpati pada setiap orang yang menilainya, melainkan suatu yang alami dan lembut yang dimanifestasikan dari lubuk hatinya yang paling dalam sebagai ungkapan syukur atas penganuggrahan rahmat berupa anak yang berprestasi dari Allah SWT. Pada hari keberangkatan anaknya(Yuyun) ke Banda Aceh yang tidak lain dan tidak bukan peristiwa besar terjadi pada tanggal 26 desember 2004 yang lalu meluluh lantahkan berbagai macam bangunan dan memakan korban ribuan jiwa, kini bangkit kembali dengan bentuknya yang baru memperlihatkan pada dunia bahwa dia juga mampu bangkit seperti sediakala. Sebagai buktinya dengan adanya lomba seni lukis kaligrafi.

Si ibu yang teringat dengan peristiwa itu pada awalnya tidak memberikan Yuyun pergi karena kehawatiran dan pirasat buruk sang ibu yang begitu tajam dan hampir tak pernah meleset akan apa yang akan menimpa putrinya tersayang ini. Akan tetapi yuyun bersikeras untuk pergi kesana karena ini kesempatannya yang pertama pergi ke luar daerah mengukir persetasi yang jauh lebih gemilang dari apa yang ia peroleh di daerah sendiri karena ssetiap orang pasti mengetahui sebelum kita ke luar dari daerah kita maka kemampuan yang kita punya belum bis akita katakan hebat karena di luar sana orang-orang yang hebat sedang berkumpul dan bersaing yang datang dari berbagai daerah yang ada di Indonesia dan merupakan orang orang terbaik pilihan dari setiap daerah yang diwakilkan. Dengan motivasi yang besar seperti tidak bias dibendung lagi yuyun akhirnya berani mengmabil tindakan kepada bundanya yang sangat jarang ia lakukan selama bersama dengannya melainkan kepatuhan dan ketaatan yang diperlihatkan kini muncul sosok yang sangat menakutkan dari sisi lain dari dirinya.

Sebelum memulai percakapan ynag mungkin bisa membuat hati sang ibu gundah gulana, yuyun dengan ssedikit pengetahuan yang ia peroleh dari membaca buku membuat ondisi dan suasana yang bisa mengubah gundukan batu menjadi emas, deretan paku menjadi kasur empuk, waktu sempit menjadi meregang bahkan mengubah musibah menjadi anugrah lantaran kelembutan dan keayuan penyampain dan alas an logis yang keluar dari sosok perempuan yang teramat ramah dan bersahabat ini. Mendengar penjelasan dari anaknya, ibunya terseyum kemudian terdiam beberapa saat lamanya menimbulkan suasana tegang pada Yuyun yang sangat mengharapkan restu Ibundanya.

Ibunya mengangguk berarti harapannya Yuyun  dikabulkan, meskipun hal itu berat dan merupakan hari perpisahan pertama bersama ibunya dan mungkin hal terakhir. Di tengah kesunyian malam dimana setiap orang sangat jarang dalam keadaan terjaga sang Ibu menangis dan memohon dengan kualitas kehusukan semampunya karena kesadaran akan kedudukannya dihadapan yang maha kuasa. Doanya tidak lain dikhsuskan kepada anaknya yang akan meninggalkan rumah dan tentunya dirinya sendiri untuk kali pertamanya.

Dengan persiapan seadanya dan barang semampunya di bawa oleh Yuyun tak lupa memohon agar ibundanya terus memohonkannya agar pulang dengan membawa kemenangan seperti biasanya  Ia lakukan pada masa kejayaanya di bidang akademik dan ekstra ataukah kegagalan yang tidak terlalu dinginkan. Akan tetapi kedua kemungkinan itu akan selalu ada pada setiap persaingan. Ssetelah selesai mengemas barang dengan segera berangkat kebandara yang berada di Rembiga (provinsi NTB). Sang ibu tidak kuat melihat pemandangan sseperti itu dan dengan berat hati melepas anaknya meninggalkan daerah menuju tempat yang hampir tidak ada orang yang mengenalnya, sendiri dengan ditemanai kuas-kuas yang banyak harapan yang tersimpan padanya hingga ia pulang nanti.

Lomba di mulai pada hari Rabu pagi dari jam 08.00 sampai jam 12.00 siang dan diantara mereka ynag bertanding ada Yuyun yang keadaanya bisa dikatakan memperihatinkan perasaan cemas menggangu setiap gerakan kuas yang akan ia gerakkan untuk menjebol rintangan dan harapan yang besar yang ia pertaruhkan pada benda tersebut, kini tidak bisa digerakkan karena tegang dan konsentrasi yang kacau balau yang dialaminya ketika melihat para pesaingnya dengan kuas dan peralatan yang agak berbeda dengan yang ia bawa dari pedesaan sana. Kalau di desa  peralatan ynag ia pakai bisa dikatakan cukup mewah, tetapi sangat jauh berbeda dengan hari ini gumammnya dalam hati. Setelah terdiam dan mampu menguasai diri dari hal yang mengganggu pikiran dan kacaunya konsentrasinya semangat baru mulai bermuncyulan ide baru mulai terukir sangat terlihat jelas dari caranya memegang kuas dan serpihan lembut oleh seniwan ini. Sang pengawas yang terus mengawasi jalannya pertandingan tak sadarkan diri dan termenung dalam suasana yang memesonakan dan menentramkan jiwa.

Suara deringan keras dari sudut ruangan tempat lomba diselenggarakan yang sekaligus menandakan berakhirnya lomba, semua peserta melepas kuas dan berharap bahwa dial ah yang akan membawa piala besar dan kehormatan yang datang dari berbagai kalangan, lain halnya dengan Yuyun perasaan puas yang ia peroleh dan persepsinya selama ini benar bahwa ketika kita mengetahui keadaan luar kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka-mereka. Perasaan itu yang terus dibawanya tanpa ada harapan barang sedikitpun untuk membawa piala penghargaan yang besar itu. Sang pengawas sekaligus sebagai penilai dalam pertandingan terus menerus memikirkan karya dari anak yang sangat jarang bahkan tidak pernah ia merasa begitu tercengang melihat usapan kuas yang begitu lembut dari tangan Yuyun.

Malam penganugrahan pun tiba, msing-masing peserta lomba riang gembira membawa harapan dan persepsinya masing-masing bahwa kemenangan akan di bawa oleh mereka. Setelah mendengar penjelasan dan sambutan-sambutan dari orang-orang terhormat yang menyelenggarakan acara, tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba kaligrafi Nasional. Perasaan tegang mulai Nampak pada kesunyian suasana dalam ruangan, dimana gema suara penyampai pengumuman  memenuhi setiap pojok ruangan. Setelah selesai diumumkan pemenang-pemenang lomba terlihat di bangku paling belakang seorang anak dengan penampilan sederhana dan pandangan sayu membuat memesona setiap yang memandangnya berlinangan air mata dan berkaca-kaca saking bahagianya bendungan yang ia usahakan untuk menghentikan tangisannya semuanya sia-sia, ia terus menangis bebrapa saat lamanya.

Pemenang lomba dipersilahkan maju dan menyampaikan kata-kata motivasi pada teman-tamanya yang ikut meramaikan acara serta membangun generasi baru yang lebih baik dalam minat sini lukis al-qur’an. Apakah yang disampaikan oleh Yuyun ?…

“Kepada semua yang hadir disini pada awalnya saya begitu minder kepada kalian semua, tetapi itu berusaha kuhilangkan karena mengingat jauhnya perjalananku dan motivasi dari ibuku, kuingat dengan jelas didiriku bahwa itu semua tidak menjadi jaminan akan kekalahanku di lomba ini karena bagaimanapun aku adalah anak ibuku dilahirkan sama dengan kalian dan makan apa yang kalian makan, tetapi yang sangat aku tekankan dan merupan perbedaan dia antara kita semua dan bisa jadi ini klebihanku bahwa kasih saying ibuku tidak ada yang bisa membandinginya dan iotulah motivasiku yang membuat saya bisa berbicara di depan kalian sekaligus sebagai salah satu yang terbaik di antara kalian pula”. Yuyun sambil berlinangan air mata menunjukkan rasa harunya ynag mampu menghentikan gerak angin, melepas banyak oksigen dan membuncah terbang kelangit menaburkan benih-benih motivator kepada setiap yang hadir.

Kini perasaan haru dengan wajah berkaca-kaca akan segera dipersembahkan  kembali kepada bundanya tercinta. Disepanjang perjalanan pulang jauh di alam pikirannya merangkai kata-kata yang membuat semua keluarga yang akan menyambutnya pulang semakin terkagum selain dengan kemenangan yang akan dianugahkannya. Terus- menerus dalam benaknya perasaan senang dan puas yang teramat sangat kini menjadi kenyataan. Dan bisa dikatakan mimpi yang bahkan sangat sulit teralisasikan kini berada di bawah gengamannya. Setibanya di bandara Rembiga NTB jauh sebagaimana dipikirkan akan banyak yang menjemputnya dan menanyakan hasil lombanya, melainkan yang didapati hanya seorang ayah yang tidak seperti waktu pertama ia berangkat.

Perasaan senang berubah menjadi haru beriring kekcewaan yang mendalam dari peribadi Yuyun, dengan keadaan yang seperti itu sang ayah berusaha menutupi apa yang sebenarnya menimpa keluarganya. Karena yuyun sangat heran dan penasaran akhirnya ia memberanikan diri bertanya sekenanya.

“Ayahanda apa yang hendak terjadi pada keluarga kita, dari tadi ayah kebingungan ingin menyampaikan sesuatu, apakah asa sesuatu yang membuat lidah ayah keluh menyampaikannya pada saya?” sedangkan saya bukan orang lain yang mau tidak mau pasti akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi” ungkap Yuyun.

“Sebenarnya tidak terjadi apa-apa, ayah tidak tega melihat keadaan kakakmu sukron sakit-sakitan selama kamu meninggalkan kami” jawab sang Ayah menghindar.

“Kalau begitu, Ayah kita cepat-cepat pulang ke rumah dan melihat keadaan kak Sukron”. Bu Marwan dengan peenuh kasih sayang memeluk Sukron yang sedang berbaring tak berdaya di tempat tidur, mengedipkan mata pun tak sanggup karena parahnya penyakit yang dideritanya. Dengan aair mata yang berlinang sang Ibu terus saja memberikan harapan besar untuk kesembuhan anaknya, hatta kemungkinan yang dilihatnya sangat sedikit. Sedangkan sang ayah setibanaya dengan husna sudah melepaskannya dan tidak mempunyai harapan untuk melihat anaknya kembali seperti sediakala. Ini sangat bertentangan dengan istrinya biar pun dalam keadaan yang bagaimanapun tetap konsisiten menemani anaknya  yang tidak berdaya. Yuyun yang menyaksikan kakaknya berbaring tak berdaya hanya terdiam dan terpaku merasa sangat bersalah. Di dalam pikirannya ini gara-gara kepergiannya kakaknya menderita hal demikian.

Bundanya yang ikut berbaring karena kecapean menjaga anaknya tidak tidur dan tidak makan sepanjang malam dan siang berusaha untuk berpuasa dan memohon kepada Ilaihi Robbi agar segera menurunkan rahmatnya berupa kesembuhan anaknya. Lambat laun keadaan sukron semakin lama semakin membaik ditandai dengan mampunya Ia menggerakkan tangannya. Diikuti dengan anggota gerak lainnya. Harapan baru mulai muncul di tengah sulitnya keadaan yang benar-benar atas kasih sayang tuhan semesta Alam yang mengabulkan do’a seorang ibu dengan baktinya kepadanya.

Setelah sekian lama mengidap penyakit yang demikian, sukron akhirnya bisa merangkak tak ubahnya seperti anak bayi yang baru belajar jalan karena kurang lebih satu bulan tidak mnggunakan kakinya.

Yuyun bahagia bukan kepalang begitu juga yang di alamai sang ibu ternyata usaha dan do’anya kerapkali didengarkan oleh Allah. Kebahagian keluarga itu setelah terbebas dari jerat ujian mendapatkan kebahagian yang lebih baik dari sebelumnya.

Begitu besar jasa seorang ibu kepada kita semua yang menjadi seorang anak, kita dilahirkan dan dirawat sampai kita beranjak dewasa dan kasih sayang yang ia curahkan tidak pernah kurang dari kecil sampai dewasanya kita. Jadi apakah kita punya alasan untuk mendurhakainya setelah begitu melimpahnya jasa-jasa beliau tanpa pernah mengharap imbalan barang sepeser pun dari rezeki yang kita peroleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: