GILI TRAWANGAN

Experienent 2

GILI TERAWANGAN by Unram mhs

Pulau  kecil, mungil, dan berada ditengah samudra yang tidak begitu jauh dengan pulau Lombok yang pada awalnya merupakan himpunan bagian dari pulau tersebut. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu suhu tidak menentu, cuaca tidak karuan, kondisi setiap detik berubah, dan struktur bumi masih labil mengakibatkan terbentuknya tiga pulau kecil tersebut, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Ketiga pulau mungil ini merupakan hiasan atau bahkan mutiaranya pulau Lombok, segala bentuk keindahan, kesenian, dekorasi alam, dan design alam yang sungguh menakjubkan dapat terlihat di pulau ini.

Dengan keindahan yang dimilikinya, membuat kami terinspirasi, sekaligus termotivasi untuk segera pergi kesana. Keinginan itu pun kami realisasikan setelah semester selesai, tepatnya hari Senin. Tujuan kami sebenarnya sederhana hanya ingin melepaskan jenuh yang berkepanjangan selama semesteran. kami beruntung mempunyai seorang teman yang berumah atau bertempat tinggal di daerah sana. Mereka berusaha datang jauh-jauh dari pulau kecil itu untuk menjemput anaknya sekaligus mengiringi kami ke Pulau yang penuh dengan dekorasi alam yang luar biasa seni dan keindahannya itu. Tidak bisa kubayangkan, ataupun kurenungkan begitu mudah perasaaan ini akan terpuaskan oleh keinginan untuk mengunjungi pulai mungil itu.

Kami pun berangkat dengan memakai sepeda motor dan simbol keberangkatan kami itu adalah… pandangan tajam Matahari yang menunjukkan hari akan menjelang malam. Di sepanjang perjalanan kami, saya bersama seorang teman sekaligus sebagai ketua tingkat di prodi kami dengan satu sepeda motor menelusuri jalanan menuju pelabuahan tempat penyebrangan. Sebelum tiba disana saya sempat bercerita diatas sepeda motor (supra fit) dengan warna hitam mengilap dengan corak sayap burung raja wali merupakan design jepang yang menawan. Ternyata teman saya ini terlalu menikmati cerita yang kusuguhkan untuknya sampai sampai konsentrasinya menurun di atas kendaraan yang hamper saja menghilangkan nyawa yang telah di hembuskan ALLAH kepada kami. Sepeda motor dengan joki Taufik akhirnya keluar dari lintasan atau sirkuit yang berlaku untuk setiap pengendara. Perasaan tegang, cemas, dan takut menghantui prasaan kami berdua, puncak ketegangan kamipun menurun ketika supra fitku kembali merajajalela di jalanan seolah-olah bintang balap dunia dengan motor andalannya sekaligus joki pengendaranya yang tangguhnya sudah teruji kembali menghempas jalanan dengan laju yang tak mungkin melakukan perlambatan sampai finis menjadi miliknya. Pembicaraan atau cerita setelah kejadian itu memunculkan trouma pada saya untuk menghentikan beberapa menit kolleksi cerita yang penuh dengan kenangan daramatis masa laluku. Sampailah di dermaga bangsal dengan sedikit kesesatan perjalanan sempat kami lalui.

Di dermaga bangsal perasaan cemas, tegang, cemas, pusing serta kebingungan kembali menghiasi kami ( saya, selamat, taufik, reni, siti, dan titin) dengan Janis sindrom panic yang berbeda. Praduga, anggapan dan pembuktian kami lakukan dengan memandangi luasnya dermaga, mata kami tetap tertuju pada tempat-tempat parkir yang biasa disana untuk melihat mobil kijang warna merah dengan bagian atasnya ditaruh springbed m,erupakan cirri dari mobil yang dipakai keluarga Lina (sang penunjuk jalan berpenglaman sekaligus penguasa di lepas pantai). Pembuktian dilakukan oleh ketua tingkat dengan berjalan menelusuri tempat-tempat parker memastikan apakah keluarga Lina sudah tiba atau belum, ketegangan kami mulai menurun kami sudah mulai bisa berpikir logis ditandai dengan keluarnya pikiran masuk akal dari salah seorang dari kami untuk menelpon lina, tetapi tidak bisa, dan akhirnya kamis epakat utuuk menelpon kak Eko dan dia memberikan nomor bapaknya kami conba mnelponnya dan hasilnya sama tidak konnek akhirnya kami akhiri pemnyelesaian dengan menutup kinerja aktif HP. Prasangka baikpun datang setelah kembalinya taufik dari penjelajahan singkat dengan membawa hasil yang sangat kami harapkan, yaitu mobilnya tidak ada. Hal ini menandakan bahwa mereka belum sampai dan anggapan awal yang sedikit agak buruk (kita ditinggal) mulai dihinggapi perasaan yang telah membuat otot dan sendi capek berkontraksi akhirnya bisa berelaksasi akibatnya muka cerah tergambar diraut wajah kami semua. Kami pun berfoto-foto sambil menunggu mobil kijang merah tiba dengan berbagai macam gaya, baik norak ataupun tidak kami tidak perduli soalnya keantusiasan untuk mengunjungi pulau itu walaupun hanya sebentar akan segera kami rasakan.

Dengan penuh jesabaran kami menunggu sampai juga kendaraan harapan yang kami tunggu-tunggu. Sepeda motor yang jumlanya tiga diparkir dengan instruksi bapaknya Lina. Angan-angan yang telah kupendam selama berada di kota Mataram akhirnya semakin jelas terlihat dengan terlihatnya dengan jelas garis pemisah antara ketiga pulai mungil dengan beragam keindahan alam ynag berbeda, beda disetiap pulau itu. Ketidak tahuanku membuat diriku bertanya kepada orang sekitar mana gili Trwangan, Air, dan Meno. Seorang anak kecil spontannitas dengan gerak refleks menghapus jejajk- jejak kebingunganku tentang cara membedakan ketiga pulau terpisah tersebut dengan jawaban yang sungguh sangat aku dambakan. Matahari (SUNSET) menarik perhatianku yang akan bersembunyi di balik gunung Agung,yang berada di pulau dewata (Bali). Itulah simbol senja menawan, indah, dan seni. Dekorasi lampu dunia yang tidak satupun manusia mampu melakukannya, biarpun golngan jin dan manusia dengan berbagai macam kecerdasan dan kecirdikannya membuat yang serupa dengan itu, niscaya mereka tidak akan mampu. Karena dekorasi tuhan sangat sempurna, sang maha seni, sang maha teratur, sang maha cerdik yang kecerdikannya jauh dari kecerdikan yang diciptakannya dan kasih sayangnya melingkupi seluruh alam ini tanpa terkecuali.

Sekitar pukul 06.00 kami berangkat menuju pulau tersebut dengan kapal laut ukurannya cukup untuk tiga puluh orang penumpang, akan tetapi karena barang bawaan keluarga lina cukup banyak, sehingga hanya beberapa orang saja. Ada dua kemungkinan yang membuat kapal itu berangkat dengan penumpang yang tidak sesuai dengan kadar tampungannya. Pertama, waktu (keadaan) sudah terlalu malam yang ditandai dengan bersembunyinya sang raja siang di balik gunung Agung (Bali), kedua, barang bawaan keluarga lina yang cukup membuat berat beban kapal. Sang kapten dan nakodanya mulai melepas tali pengikat yang fungsinya agar tidak terbawa arus sementara menunggu penumpang, mesin mulai berterioak dengan kerasnya menggunakan energinya untuk mendorong bodi kapal dengan beban kira-kira ± 500 kilogram menghempas samudra, merobek derasnya ombak lautan. Perasaanku mulai berubah senang, cemas, dan tegang berbaur menjadi satu mengapung diatas pikiran dan hal itu membuat matrik empat dimensi dalam benahku. Menyaksikan hal itu sarap motorikku tidak mau kalah dengan memunculkan perasaan senang yang teruujud di dunia ini, samudra terasa milikku seorang. Keberusaha menggapai tempat tertinggi di kapal tersebut dengan naik di tepi bodi kapal sambil merasakan hempasan angin samudra di tengah perjalanan bersejarah kami. Inisiatif dari salah seorang diantara kami, yaitu untuk membuat sesuatu yang sulut dilupangan walaupun hanya sekedar nama dan botol kosong yang berusaha kami habiskan airnya untuk mengujudkan keinginan besar itu. Ditulislah nama-nama penjelajah pertama samudra dalam kehidupan kami. Kertas yang berisi nama-nama itu di gulung sekecil mungkin yang memungkinkan masuk kelubang pintu botol aqua netral tersebut. Dengan penuh harapan, botol itu kelak kami tamukan kembali setelah 10 tahun mendatang menurut perkiraan umur tahun kami smua akan mengubah kehidupan dari maha siswa menjadi pemimpin masyarak kecil berupa keluarga dengan anak-anak harapan pembela kebenaran nantinya. Diiringi dengan wajah meremehkan, canda tawa, dan semangat besar dari kami semua kulempar sekuat tenaga yang tersisa dalam tubuhku sampai aku tidak memperdulikan sebagamana capaknya ototku memperoduksi bergoncang memperoleh energy yang kugunakan itu. Saya melempar kearah kanan jika kita mengambil titik tumpu atau arah pandangan kepulau tujuan, tentunya tidak lurus dikaranakan kapal bergerak yang gerakannya berlawanan arah dengan arah angin samudra kuberusama mengarahkan lemparan dengan sudut 1800 (π/2) yang merupakan kesalah besar karena sudut seperti itu bisa dikatakan membuat jarak lemparan paling pendek secara matematis jika keinginan kita untuk membuat lemparan sejauh mungkin harusnya membuat sudut lemparan 450 (π/4). Akan tetapi kami lupa hal itu. Ditengah perjalanan juga, ombok agak besar yang sampai membuat air laut tersebut naik ke kapal melalui sisi-sisi bodi kapal. Kami pun basah karena duduk bertepatan dengan arah lompatan air laut segera kapten menghentikan mesin sebentar untuk menghentikan amukan perbatasan pergerakan laut antara gili yang satu dengan yang lainnya. Itu sih kata seorang pengarung sungai yang sudah terbiasa pulang pergi dan merupakan pengalaman biasa baginya, tetapi pengalaman luar biasa kami sebagai pemula. Sebagai reaksi kami dengan bertanya kepadanya dan dengan polos di bercerita atau lebih tepatnya memberitahukan karana ini bersifat ilmu pengetahuan yang harus di ketahui oleh seorang pemjelajah samudra. Karena terlalu menikmati pemandangan pulau itu dengan cahaya berkemilauan dari Gili Trawangan di sepanjang pesisir pantainya bagaikan hiasan tahun baru dikampung halamanku (Mamben).

Sesampai di sana terlihat loket tempat pembelian tikat yang kukira itu Mushalla dengan melihat celana jinyang kupakai tidak memungkinkan untuk shalat ditempat itu. Mengetahui hal itu bapaknya Lina memberi perintah kepada anaknya dengan kata “ langsung ajak temanmu ke rumah”  cakap beliau. Dengan tidak banyak bicara kami dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata sembrono langsung megambil barang-barang bawaan keluarga besar tersebut masing-masing sesuai dengan kemampuan. Intuisi dalam hatika untuk mengajak adeknya ngobrol dan berusaha menanyakan sesuatu tentang ketidak tahuanku tentantang nama-nama apa kulihat, tetapi tentu tidak memuaskan jawaban anak kecil yang baru berumur beberapa tahun saja dan setiap pertanyaan yang kuajukan banyan yang tidak diketahui, tetapi itu tidak membuat semangatnya kendor untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lain dariku. Dia merupakan penunjuk jalan sejati di pulau sederhana tersebut karena itu yang kita tuju rumahnya sendiri sebagaimana yang kitaketahui daya ingat, kecakapan, dan kemampuan hapal anak kecil jauh di atas orang seukuran kami.jadi, kami tidak mungkin tersesat. Sampailah kami dirumahnya melintasi Losmen miliknya dan bertepatan dengan sampainya kami lampu menyambut kami dengan berkedip atau menoleh sombong terhadap kami bertanda ketidak senangan dengan kedatangan kami. Kami menerima sebagai pendatang baru yang awam dengan hal itu atau mungkin sang penerang malam sementara lagi tidak enak saja, sehingga begitu cuek dengan kedatangan kami.

Sesampainya di tempat penginepan, kami bergegas mencari tempat uduk untuk melakukan kewajiban kepada Sang Penguasa Jagat Raya. Dengan sabar menunggu kaum hawa selesai dari kamar mandi sekaligus kamar kecil untuk beruduk dan berdandan tentunya seperti umunya kaum wanita lamanya pasti bikin jengkel orang yang menunggu hatta itu sesame kaumnya. Tibalah giliran kami menguasa tempat itu dan dengan leluasa menggunakan air denganrasa yang tidak biasa kami rasakan. Terbersit dibenahku suatuimpuls asing dan tubuhku yang diwakili oleh sel-sel merasakan benda asing menterornya. Sebagai reaksi atas semua itu mereka mengadaptasikan diri dengan kesadaran penuh sebagai pendatang. Akan tetapi setelah kuusap muka bulu alis dan mataku tidak mampu menahan air aneh tersebut akibatnya organ lunak atau indara penglihatanku terkena terornya dan mersakan sakit yang luar biasa padaku sampai- sampai kesulitan bagiku unuk berkedip perasaan cemas kembalimenghampiriku tapi tidak lama kemudian kembali normal dengan mengeluh kepada sang penolong abadi (ALLAH). Kamipun shalat magrib disebuah kamar dengan penerang redup seadanya tanpa menunggu instruksi langsung dikumandangkan ikomah oleh teman kami bernama Slamet. Shalat dipimpin oleh saya sendiri sebagai imam dan dua orang jamaah yaitu Slamet dan Taufik. Salampun kamilakukan sebagai penanda shalat magrib telah selesai serta sedikit dzikir dari masing-masing kami secara sir (rahasia) yang diiringi dengan jabat tangan dari kami bertiga. Kami mengobrol menunggu datangnya shalat isa karena berintuisi sebentar lagi waktu itu akan menghampiri kami dan berencan untuk shalat disana lagi. Hal itu tiodak terjadi kami keburu di panggil dan dengan tempat luar biasa disiapkan sebagai tempat sementara selama berada disana sekaligus tempat peribadatan kami. Shalat isa kami tidak di tempat shalat magrib melainkan di tempat yang baru disiapkan oleh keluarga besar dengan kebaikan yang selalu melingkupinya ditandai dengan kebaikan yang dibagikan kepada kami. Naungan syukur melingkupi hati kami dengan kebaikan luar biasa dari sang khaliq sebagai symbol sayangnya kepada hambanya. Titikan air mata harusnya kami teteskan atas kebaikan itu, tetapi gengsi seorang remaja untuk menangis tetap kami pertahankan.

Kami bertiga yang merupakan sohib dari dulu berencana dan langsung terlaksana untuk berjalan-jalan keluar menikmati heningnya suasana malam di Gili Terawangan. Menelusuri jalan yang tidak kami kenal menuju tempat yang bisa memperlebar sayap kami hingga mampu melihat luasnya alam dan keindahan tempat yang selalu menjadi idaman kami karena mendengar cerita tentang keindahan Gili sebelum mengenalnya dan sekarang sudah saatnya untuk mengujudkannya. Tempat pilihan kami adalah dermaga kecil yang adadisan dan paling ujung sepanjangdermaga menuju ujungnya begitu banyak para remaja cowok-cewek berda di sisinya sampai-sampai membuat pertjalanan tehambat, padat, disamping mengasikkan terasa kami adalah artis yang di sambut oleh para penggemar. Cerita-cerita mulai di keluarkan oleh ke dua temanku dengan idak sabar ingin mengungkapkan cerintanya saling memotong pembicaraan, tetaoi aku tetap diam berusaha memahami karakter mereka menghargai setiap mereka yang berbicara, dengan memandangi mata-mata setiap mereka yang berbicara, ini merupakan ilmu sederhan yang kuperoleh dari buku di perpustakaan yang pernah kubaca. Suara yang tidak asingpun datang dari penjuru pesisir pantai bergema di telinga ini dan membuat pandangan kami tergoyah memandangi segala tempat di tepi pantai dan isyarat telpon dari teman yang masih bersisa sinyal pulsanya menelpon kaum hawa. Hasilnya kami dapatkan dengan ditunjukkannya tempat mereka bercengkrama dibawah pohon dengan lampu menggantung di atasnya membuat pandangan kami tidak sussah menjangkau tempat itu dan secara sepontan focus mata menuju kearah mereka.

Dengan sedikit pertimbangan tanpa banyak kompalin diantara kami menuju tempat mereka dan berkumpul. Langsung pandanganku menuju turis yang duduk memandangi indahnya pemandangan malam pantai dengan hiasan berupakapal boot yang jumlahnya lumayan banyak untuk pulau sekecil itu. Ucapan pertama keluar dari lidahku “hello” kepada sang bule (tourist) dan tidak melanjutkannya karena sadar akan kemampuan bicara bahasa inggrisku.setelah menunggu beberapa menit ku paksa hatiku untuk bicara sekali lagi dan percakapan singkat terjadi diantara kami semua dengan pembuka pembicaraan adalah pelepas pensaranku ini dengan menanyakan kabar sang bule ‘ how do you do” cakap saya dan dengan hormat sang bule menjawab “ I’m fine’. Dan kuberusaha menyakanapa yang dilihat dengan berjkkata ‘ what are you see” , tetapi dia tidak mengerti mungkin karena lisanku tidak terbiasa berbicara bahasa inggris dan responya malah mengajarkan saya dia kira mungkin salah ‘ what are you says” ucapnya dengan jelas itu terekamoleh memberan timpani kuping ini. Mulutku tertawa sambil menoleh keteman-temanku disambut dengan pertanyaan dari Taufik sambil gemetaran yang tidak terlihat dari gaya bicara yang di tampilkan. Disambut lagi dengan seorang yang sedikit pasih berbicara inggris di banding dnegan kami, entah kenapa kami tidak mengetahuinya dan di tengah pembicaraan sang bule menganggap kami anak bayi serata menanyakan kedatangan kami ketempat itu bersama siapa ?. jawaban dari salah seorang dari kami “classmate”. Kami tutup pembicaraan dengan pamitan kepada si bule dari australi dengan panggilan Mrs. SU. Dalam perjalanan pulang dihiasai dengan canda-tawa dan gurau tentang pengalan bicara kami tadi, dan sering mengulang kata-kata sang bule “ all of you a like baby” dengan mengutip perkataan terakhirnya “baby” yang makna sebenarnya bayi dan kami melakukan penyimpangan bahasa dengan memaknainya hewan nakjis dengan segala keburukannya, ialah Babi.Tidur merupakan tabir yang menutupi malam menghentikan sekaligus menunda perjalan kami melintasai dan menelusuri serta menjelajahi Gili Trawangan. Dan menunggu sampai hari esoknya, malam pun berlalu dengan terlelapnya kami ditempat tidur beralaskan tikar terbuat dari anyaman bamboo.

Pagi-pagi sekali taufik mengirim pesan sinyal ke salah seorang di antara mereka dan responnya berupa instruksi dari ibunda lina tersayang “ banyak pemabok masih berada di jalan-jalan yang akan kalian lalui ‘ ucapnya. Dengan sabar kami menunggu detik-detk keberangkatan melihat dan menyaksikan secara langsung peristiwa terbitnya Matahari dari kaki gunung Rinjani yang dihiasi dengan dua gili lainnya. Saat yang dinanti pun tiba, demgan penuh semangat kami berjalan sambil melihat-lihat di sekitar daerah yang kami lalui dan naik kebukit melalui tangga yang telah sengaja di buat sambil foto-foto tantunya untuk dokumentasi penglaman yang tak akan mau dilupakan ini. Matahari mulai keluar dari peraduannya dengan pancaran cahayanya membuat hening kami sebentar terheran dan kagum karena keindahannya. Penjelajahan menaiki bukit kami lanjutkan dan melompat-lompat disetiap lubang berparit yang terbentuk oleh kikisan iar huja terhadap tanah-tnanah berpasir disana. Terlihat tower tinggi berada di tenpat yang paling tinggi dengan sisi pelindung berupa kawat-kawat besi berduri mengelilingi tower dan disetiap sudut yang kira-kira berjarak 1 meter dari kawat pelindung itu berdiri pilar dengan tinggi ½ meter. Itu kami naiki utuk berfoto-foto dengan tujuan dtidak jauh berbeda dengan maksud foto-foto ditempat sambil menunggu teman-teman cewek yang masih berjalan jauh pertengahan bukit. Sesampainya merekadi tempat kami perjalanan tidak kami tunda-tunda langsung berlanjut. Agak egois ternyata kami tidak sempat memikirkan betapa capek bercampur lesu menghantui kaum lemah ini. Sambil berjalan kami sering mengungkapkan kaluhan sekaligus gaya-gaya canda kami ketika di dalam kampus mengingat nama dosen yang membuat menarik ketika menyampaikan materawaktu itu dan dosen yang sangat berpengalaman melakukan observasi lapangan, beliau sering disebut pak ARBERN VIRGOTA, tetapi kami dengan jahilnya mengubah kata akhir dari nama beliau chordate, yang mana chordate ini merupakan peralihan antara invertebrate atau rantai penghubung antara invertebrate denganvertebrata. Sambil tertawa menyebut nama beliau dengan Arben CHordata dan disertai dengan persaas bermain menganggap beliau tiba-tiba akan muncul di tengah tengah tempat tersembunyi yang tidak kami kira-kira.

Sekarang saaatnya menuju daerah pantai dengan menuruni bukit mengikuti jejak jalan-jalan yang pernah di lalui oleh orang sebelum kami. Ada tempat menarik yang kami temukan ketika menuruni bukit gambaran sederhannya lubang seperti gua , tapi jelas bukan gua dengan langit-langitnya berbentuk kulit kerang penghasil mutiara bagian dalam, dan bukan juga benta mirip itu. Untuk mengabadikan sempat kami foto-foto dengan menyesal, dengan keterpaksaan si tukang foto tidak ikut berfoto. Seorang teman perempuan kami sendiriannya berada di belakang dan meminta saya mengulurkan tangan membantunya menuju ke depan itu pun kulakukan untuk membantunya. Tibalah di pengujung bukit yang dibatasi dengan pantai yang telah berubah dari bentuk aslinya dengan tumpukan batu tinggi memungkinkan sang pengunjung harus naik karena daya tariknya yang menawan, disamping letaknya yang strategis. Seperti biasa kami harus berfoto secara berkelompok dan yang lebih indah lagi di batu itu tumbuh tumbuhan dengan batang berlekak-likuk mirip akarnya dengan daunya tebal kecil tidak jauh beda dengan tanaman yang hidup di daerah padang pasir negeri unta sana. Aku terheran dengan seninya bentuk tanaman itu menyendiri sendirian jauh darikeramaian teman-temannya berpadu dengan batu berwarna hitam konstaras sekali dengan warnanya seperti dia membuat sesuatu yang membuat orang terfikat tidak sadar. Terlepas dari objek itu pantainya dangkal sekitar 15 meter dengan kedangkalan yang disebabkan oleh batu karang yang menusuk-nusuk ketika kita menginjaknya. Hisan kami buat denganbercanda ria dengan hewan sebagai pembicaraan utama dari kelas echinodermata, yaitu Buluh Babi. Kami lanjutkan perjalanan menelusuri pesisir pantai dan berfoto denga penduduk yang sedang asyik bermain di sana sambil melihat-lihat ke bawah berharap menemukan kulit kerang yang indah dan cocok untuk dbuat gelang atau kalung bernuansa kepantaian. Perjanan pulang merupakan penutupan penjelajahan kami di pulau itu, perut tidak memungkinkan lagi melanjutkan perjanan lagi mengamuk, dan menggoncong, dan memaksa oto dan sel-sel menyediakannya energy. Hal itu membuat sel-sel kebingan karena tidak ada bahan mentah untuk memproduksi energy yang dibutuhkan sang raja badan. Responnya pun di keluhkan kepada sang pengontrol, yaitu otak dan otak menhantarkan inpuls ke saraf motorik yang membikin kami capek, lesu, dan tak berdaya. Untuk mengatasi hal demikian kami mengambil jalan pintas menuju kediaman sempat bersemangat selamat teman ang mau mengambil video ketika perjalanan melintasi hutan yang di penuhi dengan pohon kelapa. Kami egelus karena jalan ini penuh dengan debu sambil membawa sepatu ditangan kananku komat-kamit tidak karuan dan mengungkapkan kata-kata yang tak berpaedah sama sekali.

Dengan muka kusam, tubuh keringatan, kaki dan badan terlumuri debu warna hitam kecoklatan menambah kelengkapan kekotoran tubuh kami. Ketrbatasan air lagi-lagi terjadi dan kami terpaksa membersihkan diri di Masjid. Bersih merupakan awal iostirahat dan sarapan sebagai pengganti energy yang hilang selama perjalanan yang mampu membuat sel-sel tidak di marahi lagi oleh perut selaku penguasa tubuh. Tubuh pun bekerja normal tanpa ada keluhan dari berbagai macam sisi organ dengan keragaman variasinya. Istirahat kami adalah main game di leptop bawaan selamat, bermaind engan adik lina bernama Ami, dan baca buku kepunyaan bapaknya lina H. Arsan. Sempat ku beri tausiah pad Ami berupa kenikmatan surga dengan mematahkan argumennya dengan kelengkapan yang tersedia di surge sana, di tertarik di pancarkan dari responnya berup apertanyaan-pertanyaan anehnya, dan setiap pertanyaanya kubuat terjawab dengan pengetahuan sederhana tentang surge. Sampai tiba waktu sang raja siang mengeluarkan energy terbesarnya berupa pancaran UV dengan radiasi bersuhu ± 45 0C menandakan masuknya waktu dhuhur. Setelah lunch kami harus jalan-jalan Ami juga mau ikt, tetapi karena kakinya masih sakit bekas kecelakan yang menimpanya kurang lebih lima bulan yang lalu membuatnya dilarang untuk mengikuti kami. Tetapi anak itu bersikeras ingin ikut dengan beberapa nasihat kububuhi di benahnya semuanya tidak mempan, egonya memang tinggi, keinginanya memang besar tapi iti merupakan tahap perkembangan yang mendukung perkembangan otaknya. Kami pun harus membawanya  dengan menanggung resiko menggendongnya sepanjang perjalanan. Kami tiba di tempat ibunya berdagang dan kami temukan beliau sedang ngobrol dengan salah seorang warga sana sepertinya teman usahanya lantaran pembeli sedanga sepi. Barang dagangannya berupa pakaian dan asesoris yang dibutuhkan sama wisatawan saja untuk menghiasi tubuh mereka. Kami tinggalkan Ami dan saya dan dua orang teman lainnya melihat-lihat keadaaan di waktu siang pantai gili. Karena suhunya begitu menyengat dermis kulit ini, kamai terpaksa pulang menghindar dari sengatan tragis UV sang raja siang dan kembali membawa Ami pulang yang di gendong ma taufi sehubungan dengan gilirannya. Cukup ikhlas dan bertanggung jawabnya, yang dengan iklas tanpa mau diganti oleh kami menggendong adiknya Lina. Sambil menggendong Ami taufik menakut-nakutinya dnegan keiinginan untu menjual anak ini ke Mataram pas balik kami, tetapi anak itu hanya terdiam polos dan girang lantaran ketidak tahuaannya tentang arti di jual yang ada di benahnya dalah itu Sesutu yang menyenangkan. Di rumahnya para kaum haya sedang sibut membuat rujak mangga dan kami makan bersama di teras rumahnya H. Arsan sambil bercanda gurau dengan membagi tempat rujak dan bumbunya menjadi dua bagian satu untuk kaum adam dan satunya lagi untuk kaum hawa.

Istirah setelah makan rujak kami buat dengan cerita-cerita apa adanya sekedar menghilangkan pedasnya sambal rujak. Menunggu datangnya  waktu dhuhur soalnya mau nonton TV lampu mati, mau main HP batere low, mau main notebook cashan batere tidak memungkinkan, jadi begitu saja hanya bercerita. Sampai tiba waktunya shalat dhuhur. Dan perjalanan untuk menghentikan penasaran mengetahui suasana gili  si siang, sore, malam dan paginya akn terealisasi dengan kepuasan masing-masing peribadi kami yang berkunjung. Hal ini merupakan titik akhir petualang kami sorenya perke pantai melihat penyu yang ditaruh di aquarium dengan ikuran paling besar darii kura-kura itu sebesar telapak tangan orang remaja. Cukup banyak orang yang berkunjung di tempat yang kecil itu denga seorang pengurusnya yang mengetahui untuk apa di taruh dan setelah besar di apakan? Ternya besarnya kura-kura kan di lepas lagi kehabitat asalnya itu dilakukan untuk menjaga kelestariannya. Memang benar-benar terkendali di pulai ini semuanya di atur muali dari lingkungan sampai perlindungan terhadap keragaman mahluk hidup yang dimiliknya. Melihat teman-teman duduk bercerita menandakan ketidak tertarikan sekaligus kesulitan menikmati ppasir putih pantanya membuatku memunculkan inisiatif kejahilan dengan melemparkan pasir keatas kepala mereka. Ternyata Ami terlalu menganggap srius hal itu dan bermain dengan berlebih-lebihan sampai-sampai terornya kepa da saya sang pemuncul ide jahil sangat kejam. Melihat kondisi itu sang penyelamat yang mampu menghentikan situasi seperti itu kakaknya dengan berbagai tindakan penghentian. Akupun menambah ribet permasalahan dengan bergoyang gaya Hawai semakin membuat kelimaks masalah dan membuat teman-teman sedikit tertawa setiap kuulangi gaya hawai tersebut. Tidak terlepas juga para wisatwan yang sempat melihat actionku tertawa. Aku sebagai tersangka utama harus menaggung resiko, semua teman memegang pasir putih sebanyak tempat yang mampu di tampung tangannya dengan tujuan pelemparannya ke arah sang tersangka. Dengan bertindak seolah menguasai daerah musuh, tenang dan focus kupadukan hingga terjadi kekoheranan. Lemparan yang bertubi-tubi mulai di luncurkan, dan tindakan menghindar dariku memungkinkan tidak satu pun peluru pasir mengenaiku, kecuali bersitannya.

Setelah tindakan jahilku, kami harus pulang karena Ami sudah tidak bisa di control  jiwa kekanakan dan ambisiusnya membuat jengkel sang kakak (Lina). Dengan sangat terpaksa harus kembali ke penginapan membuang waktu menikmati pemandangan pantai di sore hari menjelang malamnya. Sepanjang perjalanan pulang lina merasa kasihan pada adiknya dan berusaha membuatnya melakukan apa saja yang hendak ingin dilakukan sang adik, tetapi karena cidera yang pernah dideritanya semuanya harus ditunda hingga sembuh dapat dinikmatinya. Kepulangan kami membawa kesan yang tidak begitu baik, raut wajah suram, penanda senyum hamper lenyap dan pandangan sayu merupakan buah tangan yang kami bawa bukan sebagai hadiah buat kepuasan hati, melainkan sebagai beban yang membawa kesan tidak sedap, yang berlanjut pada kekesalan masing-masing peribadi. Dalam perjalanan pulang Ami di gendong oleh Taufik menelusuri jalan tanpa semangat.

Tepat di persimpangan jalan menuju pulang Ami menginginkan dibelikan eskrim. Komando dari Lina di mandatkan oleh adiknya yang baru akan masuk SMP. Adiknya itu, seorang perempuan ukuran tinggi untuk SMP tidak mendukung, rambut ikal hitam,keadaan hati santai dan raut wajah suram hening serta fisik tidak begitu ideal untuk ukuran umur. Mandate pun dilaksanakan, sang adik pergi melewati jalan yang berbeda dan akan tembus di persimpangan jalan yang satunya. Ami tidak ingin kehilangan pandangannya melihat ke-2 kakaknyahilang-lenyap dari indra penglihatannya. Mengetahui hal itu dia berusaha mencegah kepergiaanya, tetapi itu tindakan yang tidak membawakan hasil yang memuaskan. Sebagai akibat darinya kegagalan usaha Ami harus diterima dengan penuh kelapangdadaan. Keinginan untuk melakukan tindakan mencegah bangkit lagi menguasai semua benah dan alam pikirannya dan kami pun berhenti berhubung waktu magrib sebagai penanda malam akan segera datang. Kami (kaum adam) meninggalkan mereka (kaum hawa). Dengan tidak banyak perotes dan berargumen langsung mengambil star pulang meraba-raba di alam pikiran sambil mengingat-ingat jalan-jalan yang pernah kami lalui. Sesampainya di penginapan mata kami tertuju pada air yang melimpah di mansjid, karena siangnya kering. Listrik mulai mengalir menghidupkan berbagai macam mesin yang telah lama menunggu waktu untuk beroprasi. Suara ribut dari perpaduan mesin mencemari indra pendengeran.

Seusai mandi kuajak dua orang temanku melihat SUN SET berhubung waktu azan magrib belum dikumandangkan. Salah satu temanku tidak mau ikut karena kecapean dan kehawatiran akan keterlambatannya menjalankna ibadah shalat magrib. Kami berdua harus pergi tanpanya melewati jalan biasa, mendaki bukit, berlari-lari kecil seperti sai dan tidak menghiraukan respon capek dan letih yang datang dari sarap  pusat. Setelam melewati jarring pembatas pertengahan bukit kesialan menghampiri kami. Matahari telah tenggelam menyelam di Lautan hinggap di Gunung agung nan jauh di pulau Bali awan-awan membantu menyembunyikan sang Matahari menghalangi pandangan akan pancaran yang tersisa darinya. Harapan yang kami bela-bela dengan perjuangan yang cukup menguras energy, membangkitkan adrenalin dan memaksa jantung berkontraksi harus kami lepas dengan penuh ketrpaksaan. Kami pun kembali dengan harapan yang telah pudar menuruni perbukitan dan kebingungan kan jalan pulang serta bertemu dengan GUIDE yang membawa 3 orang tourist melihat keadaan kami yang kebingungan, belioau langsung bertanya dan sebenarnya ingin menunjukkan jalan pulang, tetapi saya dengan merasa tau jalan tidak menerimanya. Kami berdua harus pulang lewat jalan yang lain berharap tidak tersesat di Pulau yang kecil ini. Ukuran luas yang kecil ini membuat kami tidak ragu berjalan dan berkeyakinan tidak akan tersesat di sini, dengan kepercayaan diri seperti itulah yang mampu membawa kami ke jalan yang menuju jalan pulang. ,melihat dari jauh kita akan bertemu lagi dengan sang GUIDE perasaan malu mulai terukir mesra di dinding-dinding otak kiriku. Pertemuan itu kami lakukan dengan menghilangkan perasaan yang memperlambat tibanya ke penginapan. Pertemuan itu menguatkan silaturrahim dan berjabat tangan sambil perkenalan. Nama sang GUIDE Hakkim dari LOTENG.

Segara aku dan taufik mengambil air wudhuk seraya mengejar iman yang baru serekaat. Melanggar sabda nabi besar Muhammad saw., yaitu shalat dengan terburu-buru, terpontang panting dalam diri yang berusaha kutenangkan dengan hati memikirkan bagaimana tenang dan khusuk kuhadiahkan pada ruh mengejar ketinggalan sang Imam. Keluar dari masjid sempat bersalaman seraya mengucapkan salam sebelumnya pada H. Arsan selaku orangtua Lina atau lebih tepatnya pemimpin keluarga besar di Gili, dengan sopan mendahuluinya. Menyebrangi jalans elebar 1 meter dari jeruji masjid ke-jeruji rumah pak hajji. Menerobos keadaan sepi, sunyi senyap masuk ke tempat kami bertiga bercengkrama, berdiskusi, bercanda, dan menghayal berbagai kemungkinan massa depan menjadi seorang scientis usia muda. Hayalan it uterus kami bertiga hayalkan hingga datang sang pengubat titik focus panca indara kami, yang akan membelokkan bayangan, berakibat ketidak jelasan penglihatan sang pengamat teori secara fisika. Wajah jenakanya membuat keterampilan atau ide gila tiga mahasiswa penghayal tinggi dunia baru saja akan lahir. Mengubah Susana hayalan menjadi suara tauran sambut riuh gak karuan asalkan nyambung terus menggema sampai adzan isa di kumandangkan. Merupakan titik puncak dari sebuah film tidak jelas alurnya yang kami perankan dengan peleraian ikut tidak jelas sutradara tak berpengalaman berusaha dengan kemampuannya menghianati sutradara terkenal sedunia. Peleraian yang tidak jelas apakah sang protagonist sedih atau bahagia? semuanya kacau balau, semua peran tanpa teks pembantu telah gagal total.

Shalat isa pun berakhir di panggil makan malam bercengkrama dalam Susana makan sama sekali tidak menghormati hidangan yang telah di rahmati ALLAH sang pemberi rizki kalau seandainya santapan itu di izinkan berbicara atas kelakuan kami setiap waktu makan melanggar tatakrama atau ahlak yang telah di sabdakan oleh rasullulah semenjak zaman kenabiannya. Maka dia akan menagis menyesali dirinya dimakan oleh kita.

Seprti malam pertama, tiga penghayal sejati berjalan melihat kondisi malam hari dengan segala jenis makanan, dan keanggunan suasan malam di Pulau Gili Trawangan luarbisa elegan persis tempat-tempat di luar negeri yang negaranya maju, dengan lampu-lampu kelap- klip dan berbagai macam bentuk tempat yang di desain seperti restoran hotel, dan berbagai jenis kebutuhan para Bule. Astagafirullah tidak lepas dari lidahku, dan di dalam hati ke-dua teman ku melihat kekiri-ke kanan mencari tempat makan menyakan pada penjual bakso ketersediaan barang dagannya, “ wah buek “  cakapnya, penjual terang bulan juga sama. Kami pasrah harus makan apa akhirnya seperti para pengembara kehabisan bekal memakan apa yang dekat meyerbu sate dan jagung beserta pendorongnya sebagai makanan penutup malam ini. Dengan menuju tempat di ujung dermaga memandangi keindahan laut berusaha mengosongkan fikiran meandangi laut lepas polos dan penuh keheranan. Suasan tanpa kaum hawa tentu membuat tidak inak Susana, inisiatif untuk mengajak teman perempuan, tetapi mereka menolak dengan keletihan dan kelesuan sore menghindar dari kesenangan mereka, menentang keinginan dan berusaha menghilangkan nafsu besar keinginan mereka. Disinilah letak keunggulan kaum hawa mampu menyembunyikan sekaligus menurunkan kekuatan nafsu yang disokong  iblis terlaknat.

Garis terang pada upuk langit telah terlihat, awan telah menyingkir dari pandangan melihat angkasa menandakan waktu subuh masuk. Pagi ini beda, shalta subu di hadiri oleh Bule. Salat sunnat tahyatalmasjid yang kulakukan teus di pandangi yang kebetulan berseberangan dari tempat aku shalat. Dipandangi diriku dalam matanya penuh dengan pertanyaan, tatapan penasaran dari bola coklat lansa matanya begitu tajam membuat bersitan cahaya ilahi dalam diriku mampu membaca pikiran yang diinginkan bahkan yang diharapkan, yaitu penguasan agama barunya segera di perolehs secara kaffah( sempurna) sebelum pulang ke daerahnya nan jauh sana. Dengan sikapnya bersandar di pilar berbentuk bundar dari dekorasi dalam masjid dan memandangi imam membaca tahlil, zikir dan berbagi macam pujian lainnya terus di pandangi tidak mau lepas sedikitpun, telinganya diperlebar untuk menangkap gelombang suara yang akan membantunya mendapatkan keiinginannya.  Sebelum imam selesai beliau sang Muallaf pergi meninggalkaan jma,ah pergi. Bersalaman sebagai tanda diantara kami yang mengikuti sampai akhir perintah Allah dengan tujuan memperkuat dan memper erat hubungan persaudaraan sesame sambil berkeliling membentuklingkaran sempurna.

Agenda semua yang terangkai rafi di kami bertiga mendaki bukit menyaksikan sang surya menyambut pagi dengan aura radiasi UV dengan warna membelah jiwa sang pengagum alam seperti kami. Dengan penuh sabar menunggu, sambil menulis sebuah perelisasian utaraan kami dalam hati dal selembar kertas ukuran  A4 S, 700 g. menggantungkannya di atas pohon yang kupilih rantingnya yang dah lapuk berharap cepat akan jatuh sebagai tanda keberhasilan kami untuk memperoleh cita-cita. Matahari menyingsing keluar dari peraduannya dengan gaya elegan yang jarang di lihat orang dengan mata hati, menarik-nari di sambut awan dengan berbagai hiasan menyambut sang surya sekaligus pembuka pagi indah dan tak terbayangkan. Kata-kata tak sanggup menggambarkannya hanya ungkapan sederhana yang bisa kita jdikan tanda kekaguman atas karya seni,lukisan bergaya seni tinggi ciptaan sang khaliq yang memnbuat begitu sempurna dengan dua abjad huruf arab  ‘ ك ن     yang dirangkai menjadi کن . artinya jadilah maka jadilah apa yang dikhendaki. Maha benar allah dengansegala firmannya.

Kesan menyaksikan pemandangan luar bisa, jarangsekali dalam kesempatan keneruntunag mendapatkannya membawa kami ke dunia utopia imajinasi alam bawah sadar. Kebanggaan yangkami bawa pulang, bertolak belakang dari itu Ami kelihatan murung melihat kepergian kami persis gaya gaya aksi-reaksi yang tercantum pada Hukum ketiga Newton “ sebuah benda akan melakukan aksi dan yang lainnya akan melakukan reaksi yang besarnya sama denga bear yang dikeluarkan aksi tersebut”. Dalam hal ini kebahagian pertemuan akan di akhiri dengan kesedihan dan kekejaman yang berkepanjangan perpisahan memang itulah bahtera hidup di dunia tidak ada yang hakiki semuanya hanya sementara saja.

One Response to “GILI TRAWANGAN”

  1. Hidayat Says:

    Lombok emang OK


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: